15 January 2026

Luangkan Waktu Merenung Walau Sejenak

Keinginan manusia yang super sibuk dengan pekerjaannya tidak dapat diukur berdasarkan kemampuan imajinasi yang dimilikinya. Sumber inspirasinya berasal dari tekad dan cita-citanya demi sebuah tujuan untuk kelayakan hidup yang didambakan baik secara pribadi maupun oleh yang memotivasinya. Satu kalimat "demi dan untuk" seakan menjadi sesuatu prioritas yang melebihi apapun.

"Demi keluarga", untuk masa depan anak-anak. Demi sebuah status sosial, untuk membuktikan diri pada mereka yang meragukan. Demi sebuah mimpi, untuk mewujudkan warisan abadi. Frasa ini menjadi mantera pribadi yang diulang setiap kali matahari terbit dan sebelum kepala menyentuh bantal. Ia adalah bahan bakar yang menggerakkan mesin yang hampir kehabisan tenaga, pencahayaan di ujung terowongan yang terasa tak berujung.

Namun, dalam laju kehidupan yang serba cepat ini, seringkali ada yang terlupakan. Manusia yang berlari demi tujuan, kadang lupa menikmati perjalanan. Ia begitu fokus pada puncak gunung hingga tak menyadari keindahan lembah yang dilewatinya. Waktu yang seharusnya dihabiskan dengan tawa bersama orang tersayang, tergantikan oleh dentingan notifikasi email. Kesehatan yang menjadi modal utama, dikorbankan demi satu jam lembur lagi. Jiwa yang haus akan inspirasi dan kedamaian, justru dipaksa menenggah aspal dan kebisingan kota.

Paradoksnya, tujuan utama dari semua perjuangan itu—kelayakan hidup dan kebahagiaan—justru bisa terkikis dari dalam. "Demi dan untuk" yang semula menjadi pendorong, perlahan bisa berubah menjadi penjara yang membelenggu. Kebahagiaan ditunda untuk "nanti", kesuksesan diukur dari materi, dan hubungan interpersonal menjadi transaksional. Manusia itu berubah menjadi mesin pencapai tujuan yang efisien, tetapi kehilangan esensinya sebagai manusia yang merasakan.

Maka, di sinilah letak kunci sejatinya. Kebijaksanaan sejati bukanlah tentang menghentikan perjuangan, melainkan menemukan keseimbangan. Ia adalah kemampuan untuk menyadari bahwa perjalanan "demi dan untuk" itu tidak harus ditempuh dengan cara mengorbankan diri. Sejenak berhenti bukan berarti menyerah, melainkan cara untuk mengisi ulang bahan bakar. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif—seperti menatap awan, berjalan tanpa tujuan, atau sekadar mendengarkan musik tanpa gangguan—bukanlah pemborosan waktu, melainkan investasi untuk kesehatan mental dan spiritual.

Pada akhirnya, kehidupan yang layak dan didambakan bukanlah sekadar titik akhir yang harus diraih dengan susah payah. Ia adalah sebuah proses yang terus berjalan, sebuah kanvas yang dilukis setiap hari dengan warna-warni kesibukan, ketenangan, ambisi, dan syukur. Jadi, biarkanlah "demi dan untuk" menjadi kompas yang memberi arah, tetapi jangan biarkan ia menjadi satu-satunya peta yang kau ikuti. Karena kadang, jalan terindah menuju tujuan adalah jalan yang memungkinkanmu untuk menikmati setiap langkahnya.

14 July 2015

Melawan Lupa

Manusia diciptakan dengan kesempurnaan fisik yang tidak dimiliki oleh makhluk ciptaan lainnya, salah satunya yaitu panca indra yang memiliki berbagai fungsi. Sudah sepatutnya kita bersyukur atas penciptaan yang sempurna tersebut dengan memaksimalkan fungsi-fungsi yang kita miliki sejak dari lahir.

Indra yang paling unik diantara indra-indra lainnya adalah akal (dalam hal ini otak / brain). Otak terdiri dari jutaan sel syaraf yang bekerja tiada hentinya selama aktivitas tubuh masih bekerja. Kinerja otak tersebut yang selama ini kita kenali memiliki kemampuan berfikir realistis terhadap berbagai masalah kehidupan bahkan kemampuannya dalam berhalusinasi tentulah menjadi kunci utama organ manusia dalam mencapai berbagai keinginan dan kebutuhan baik fisik maupun non fisik.

Hasil cipta dan karya manusia yang tercipta ternyata didominasi oleh kinerja otak dari berbagai bidang hasil cipta karya yang dihasilkan tentunya dapat dijadikan tolak ukur kemampuan antara sesama manusia dalam hal memperoleh keinginan yang diharapkan selama hidup didunia. Baik dalam hal perlombaan olahraga, pesaingan kerja, peperangan perebutan kekuasaan bahkan sampai tahap bagaimana mengalahkan alam. Semua terjadi menurut hasil olah pikir otak manusia berdasarkan kemampuan masing-masing.

Dengan kemampuan yang luar biasa tersebut tentunya kinerja otak semakin lama akan semakin melemah seiring waktu berjalan dan seiring usia tubuh manusia yang semakin menua, jika tidak kita rawat dengan seksama. Hal tersebut tidak menutup kemungkinan dapat saja terjadi pada setiap otak manusia yang tidak terawat dengan baik.

Lalu bagaimana agar kesehatan otak kita dapat terjaga dengan baik sehingga kita tidak disebut sebagai manusia pelupa? Cara termudah melawan lupa adalah dengan cara otak kita ajak untuk selalu berfikir positif terhadap barbagai macam persoalan-persoalan yang dihadapinya. Tentu tidak mudah tapi dengan selalu berusaha mengasah otak ke hal yang positif mudah-mudahan otak kita akan tetap terjaga kemampuannya.

Jangan kotori otak kita dengan pikiran-pikiran yang berkonotasi negatif yang akan melemahkan fungsi dan kinerja otak kita yang seharusnya baik akan menjadi tidak baik, selalu berfikirlah positif karena otak kita memang diciptakan untuk melakukan hal-hal yang baik.

19 March 2013

Apa Bedanya Antara Iklhas dengan Sabar

"Kesabaran ada batasnya" Kalimat yang tidak asing ditelinga kita.
"Ikhlaskan saja .......". Juga kalimat yang berkonotasi sama yang sudah tidak asing lagi ditelinga.

Adakan perbedaan antara 'sabar' dan 'iklhas'?.
Sebagian menganggap ada perbedaan yang jauh dari makna dan arti ke dua kata tersebut. Sudah pasti berbeda jika dimaknai kata per kata, namun jika dimaknai dengan bersamaan dua arti kata tersebut hampir mendekati persamaan. Seseorang sedang mengalami permasalahan di keluarganya dan hampir terjadi perceraian, ada sebuah ucapan dahsyat keluar dari mulutnya "Kesabaran ada batasnya......dst!.

Pemaknaan arti kalimat sabar yang terucap tentu sangat berbeda jauh dengan arti kata ikhlas. Dipihak lain seseorang sedang mengalami suatu kehilangan yang berarti dalam hidupnya, "Ikhlaskan saja......dst. Sudah barang tentu kita dapat menebaknya makna yang terucap dari kalimat tersebut.

Dua kata sabar dan ikhlas jika dimaknai bersamaan artinya, jika kita sedang mengalami suatu kondisi yang didalamnya mengharuskan kita untuk merasakan sabar dan ikhlas itulah yang menjadi pertanyaan. Apakah harus dimaknai terpisah ataukah secara bersamaan? Misalnya dilema kebutuhan ekonomi yang melanda kas keuangan keluarga kita sedang kacau. Mungkin hal tersebut lebih tepat disebut sebuah dilema yang harus segera diatasi secepatnya karena menyangkut nasib hidup sebuah keluarga. Sedangkan kondisi pekerjaan tidak menentu ditambah dengan sumber  pemasukan yang kian tidak menentu. Ada pesan-pesan moral yang sering terucap dari mulut kawan dekat kita, yang mengharuskan kita bersabar dalam menghadapinya, dan ikhlas dalam menjalaninya. 

Pemaknaan inilah yang menjadi pertanyaan sekarang, dimanakan letak perbedaan ke dua kata tersebut jika harus dihadapkan oleh situasi yang sangat tidak menentu, seperti prahara rumah tangga, masalah keuangan, masalah pekerjaan dengan mitra kerja, dan sebagainya. 

Mungkin ada sisi lain yang mungkin dapat ditelaah dari pemaknaan kata-kata tersebut. Jika perbedaan dua kata tersebut harus berbeda dengan situasi yang berbeda, mungkin hal itu sudah pasti mudah dicerna, tapi jika suatu kondisi yang terjadi seperti di atas sedang kita alami, mungkinkan ada perbedaan diantara ke dua kata tersebut? 

Ada kesimpulan kecil yang mungkin dapat diambil sebagai catatan kecil. Tergantung kondisi seseorang tersebut dalam menghadapi segala permasalahan yang dihadapinya, dan tergantung dari pribadi masing-masing dalam menempatkan makna kata yang hampir selalu bersamaan dibawa ke sebuah permasalahan yang terjadi. 

Sebuah kata bijak "Tuhan bersama orang-orang yang sabar...," dan keikhlasan selalu berbuah kebahagiaan. 
Semoga bermanfaat.