21 June 2012

Penghapusan Program Pekerja Anak

Tahun 1992 International Programme On the Ellimination of Child Labour (IPEC) mencetuskan program penghapusan bentuk-bentuk pekerjaan terburuk untuk anak, dan Indonesia termasuk negara pertama yang mengambil bagian dalam program tersebut, di karenakan Indonesia termasuk negara yang menyegerakan diri untuk meratifikasi Konvensi ILO tentang bentuk-bentuk pekerjaan buruk untuk anak.

Dengan meratifikasi konvensi tersebut, indonesia mempertegas komitmennya untuk mengambil tindakan efektif untuk melarang dan menghapuskan segala bentuk pekerjaan terburuk yang terjadi pada anak pada usia minimun dalam memasuki dunia kerja. Komitmen yang besar ini membuahkan sejumlah hasil yang cukup menggembirakan. Hal ini berdasarkan data ILO dari tahun 1996 telah terjadi penurunan jumlah pekerja anak pada usia minimum sekitar 2,5 juta anak, dan penurunan ini terus terjadi setiap tahunnya.

Meskipun demikian jumlah pekerja di negeri ini relatif masih tinggi. Badan survei Nasional Pekerja Anak yang dilakukan oleh Badan Pusat Statistik dan ILO pada tahun 2009 mencatat masih terdapat sekitar 4 juta anak yang secara ekonomi turut dalam kategori masih menjadi pekerja aktif. Sementara Komisi Nasional Perlindungan Anak pula mencatat 11 juta anak pada usia 7-8 tahun tidak terdaftar pada sekolah dasar di berbagai wilayah di indonesia, dan diperkirakan telah menjadi pekerja aktif.

Sebetulnya ada beberapa cara untuk menanggulangi terjadinya masalah pekerja anak yang terjadi diseluruh penjuru dunia, termasuk indonesia, yaitu pertama, dengan menarik pekerja anak dari dunia pekerjaannya, dan dikirim kepada lembaga-lembaga pendidikan atau sekolah non formal. Kedua, dengan pencegahan yang beresiko sebagai pekerja anak dengan memfasilitasi program pendidikan kecakapan hidup secara personal dan sebagainya. Ketiga, dengan meningkatkan taraf perekonomian keluarga melalui pendidikan wirausaha dan keterampilan. Hal ini didasari pemikiran, jika orang tua mampu secara ekonomi, maka anaknya akan terjun sebagai siswa sekolah.

Kemiskinan dianggap sebagai salah satu faktor pemicu tingginya angka pekerja pada anak di usia minimum. Maka dengan adanya pendekatan secara ekonomi akan menjadi sebagai salah satu solusi utama ketika sejumlah agenda global menjadikan program pengentasan kemiskinan sebagai target utama seperti tertuang dalam Program Millinennium Develepment Goals (MDGs).

Sebagai persoalan yang sangat kompleks, upaya dalam penanggulangan masalah pekerja anak tidak cukup hanya dengan mengandalkan langkah-langkah konvensional saja maupun pendekatan ekonomi kontemporer apabila cara ini dilakukan secara sporadis. Seharusnya upaya penanggulangan masalah pekerja anak menggunakan pendekatan yang multisektor, terutama sektor-sektor terkait dengan masalah pekerja anak, seperti pemerataan akses pendidikan melalui peningkatan angka partisipasi murni dimulai dari siswa yang masuk program wajib belajar.

Program ini akan berjalan lebih optimal jika bersinergi dengan semua sektor, mulai dari pusat sampai daerah, mulai dari elemen masyarakat sampai elemen swasta. Selain itu mengembangkan kemitraan global dan memaksimalkan kerja sama dalam lingkungan secara nasional. Hal ini diperlukan karena tidak semua pihak khususnya daerah yang memiliki jumlah angka tinggi pekerja anak tidak memiliki kemampuan sumber daya yang memadai untuk mengatasi masalah pekerja anak di daerahnya sendiri.  Kemitraan dari berbagai pihak dalam lingkungan yang luas dapat menjadi solusi dalam mensiasati keterbatasan dalam anggaran dan ketersediaan sumber daya manusia.

19 June 2012

Pertimbangan Masuk Sekolah Bertaraf Internasional

Antusiasme orang tua untuk memasukkan anaknya ke rintisan sekolah bertaraf internasional cukup tinggi. Hal ini membuktikan keseriusan mereka terhadap pendidikan anaknya. Bahkan, tidak jarang sebagai orang tua siap melakukan sesuatu yang kurang etis asalkan anaknya dapat diterima di sekolah tersebut. 

Dimana tertuang dalam Permendiknas No.78/2009 Pasal 16 tentang penyelenggaraan sekolah bertaraf internasional pada jenjang pendidikan dasar dan menengah, diperbolehkan pungutan untuk menutupi kekurangan biaya di atas standar pembiayaan pendidikan kecuali bagi peserta didik dari orang tua yang tidak mampu secara ekonomi.

Oleh sebab itu ada ketentuan kuota 20% untuk siswa yang miskin. Harusnya ketentuan tersebut dijalankan oleh RSBI. Namun, hingga kini kenyataannya masih belum terpenuhi. Dari hasil survei Pusat Penelitian dan Kebijakan (Puslitjak) Balitbang Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas), dari 130 RSBI, rata-rata baru menampung siswa untuk jenjang SMA/SMK.

Sedangkan jenjang SMP dan SD, presentase siswa miskin masih 10%. Sementara kualitas guru di RSBI yang dituntut untuk bisa menguasai bahasa inggris masih 60% kemampuannya menengah ke bawah. Tidak heran apa bila setelah lebih dari lima tahun RSBI berjalan belum ada peningkatan menjadi sekolah berstandar Internasional (SBI). Fenomena ini tentunya menjadi indikator yang jelas jika RSBI jalan di tempat.

Padahal Dinas Pendidikan telah mensyaratkan sekolah mempunyai tenaga pendidikan dan kependidikan yang mutunya di atas rata-rata (min. 20%) guru berijazah S-2. Dengan harapan RSBI menghasilkan lulusan dengan kualitas di atas rata-rata. Kenyataannya peningkatan keilmuan maupun kualitas akademik siswa hanya berkisar 19%. Padahal kualitas siswa menjadi patokan utama berjalannya RSBI menjadi SBI.

Untuk itu RSBI menerapkan sistem penerimaan siswa baru berbeda dari sekolah reguler. Pada tataran ini calon peserta didik dan orang tua seharusnya memahami mengapa sekolah itu seperti sulit ditembus.

Pencapaian Nilai Minimal

Harusnya orang tua dan siswa dalam memilih sekolah tidak berdasarkan faktor gengsi saja, tapi minat dan kemampuan siswa seharusnya menjadi pertimbangan utama ketika akan memilih sekolah. Proses belajar di RSBI yang harus dipahami adalah mengharuskan siswa mencapai angka di atas 80% terkait ketuntasan minimal tiap mata pelajaran sejak kelas VII.

Siswa yang akan masuk tentunya butuh perjuangan ekstra keras untuk melewati angka tersebut, terutama mereka yang pada jenjang sebelumnya. Walau dalam memperoleh angka itu bukan hal yang mustahil. Proses pembelajaran yang bermutu diharapkan mampu mendongkrak prestasi akademik siswa. Demikian pula masih ada program remidi untuk siswa yang memperoleh nilai di bawah standar. Bila siswa harus melalui remidi untuk semua mata pelajaran, tidak bisa dibayangkan betapa beratnya beban siswa tersebut. Pada sisi lain, harus mengikuti berbagai ekstrakurikuler yang bersifat wajib dan beberapa ekstrakurikuler pilihan. 

Dengan tambahan kewajiban itu, dapat dibayangkan kesibukannya, padahal jika hasil ketuntasan minimal pada akhir tahun tidak mencapai angka 80%, maka akan direkomendasikan untuk mencari sekolah lain. Langkah ini diambil bukan berarti siswa tidak naik kelas, melainkan dinilai tidak mampu mengikuti sistem pembelajaran di RSBI. Kiranya sebagai orang tua, sebelum memasukkan anaknya ke sekolah RSBI benar-benar mempertimbangkan kemampuan anaknya secara objektif. Bila perlu meminta bantuan psikolog untuk mengetahui minat dan bakatnya dan seberapa besar tingkat kecerdasannya.

Alangkah baiknya jika pilihan sekolah disesuaikan dengan kemampuan, minat dan bakat. Tujuannya agar anak tidak merasa terpaksa dan berakibat anak berakhir menjadi frustasi. Dengan bimbingan intensif di rumah maupun belajar kelompok maka diharapkan anak dapat meningkatkan kualitas dirinya dan dapat berprestasi pada jenjang akademik.

16 June 2012

Antara Profesi dan Pengabdian

Perkembangan zaman yang mengarah kepada gaya hidup hedonisme dan konsumerisme saat ini semakin lama semakin sulit untuk menemukan pribadi yang bersedia mengamalkan baktinya untuk menjadi panutan di masyarakat. Semangat pengabdian yang didasari semangat kemanusiaan merupakan pondasi yang kuat bagi pendidikan dimasyarakat. Tapi hal ini menjadi sedikit memudar karena pribadi-pribadi yang bersedia mengamalkan profesinya tersebut ternyata dibarengi dengan adanya tuntutan materi. Wajar memang, karena dengan materi dapat menopang kebutuhan hidup seseorang untuk memperoleh kelayakan hidup. 

Keadaan telah berubah pasca runtuhnya rezim lama yang berkuasa mulai terlihat gejala peningkatan minat masyarakat untuk mencoba peluang dunia kerja menjadi tenaga berprofesi semangat untuk pengabdian ke masyarakat.

Hal tersebut berbeda keadaannya ketika pada kurun waktu 10-20 tahun sebelumnya, dimana citra seorang pengabdi kemanusiaan di masyarakat masih memiliki kesan sebagai suatu profesi yang luhur meskipun tetap marginal. Sifat luhur yang dilakukan sekarang ini merupakan dedikasi yang pada akhirnya berujung kepada materi yang diterima meskipun sangat tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Keadaan itu berada pada popularitas sebagai profesi yang berada dibawah profesi lain yang mentereng, misalnya profesi antara seorang guru dengan seorang dokter.

Maka tak heran jika ada seorang guru yang bekerja separuh harinya dengan beraktivitas di tempat lain demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Gambaran dari lagu Iwan Fals yang menceritakan suatu profesi yang telah lama dilakukan namun akhirnya berakibat pada kecemburuan sosial pelaku profesi tersebut.

Sering dijumpai di lapangan, profesi tersebut semata-mata hanya sebagai rutinitas administratif kerja semata. Misalnya jika dalam memberikan materi pembelajaran, pelaku profesi tersebut hanya memberikan konsep seadanya saja tanpa ada kelayakan seperti pada silabus, RPP dan acuan lainnya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi jika pelaku profesi ini melalaikan tugasnya lantaran harus memilih pekerjaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Gambaran seperti itu dimasa kini hampir dapat dikatakan tidak ada lagi, namun profesi seorang pengabdi masyarakat sudah hampir lepas dari kesan yang marginal. Kondisi yang terjadi di berbagai wilayah juga belum mencukupi rasio kuota yang ideal, maka meningkatnya minat pada profesi ini merupakan fenomena yang baik. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya pendaftar setiap tahunnya.

Akan lebih bijaksana jika profesi ini tidak dijadikan sebagai profesi untuk menumpuk materi saja, perlu dibedakan antara profesi kerja dan profesionalisme kerja sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kontekstualisasi dalam perbedaan itu memang sangat disadari bukan suatu pekerjaan yang mudah, dan diperlukan upaya untuk menghindari terjebaknya psikis profesionalisme pada capaian hasil materi semata.

Memahami pentingnya peran serta seorang pengabdi masyarakat sebagai pilar pembangunan moral generasi muda memang memerlukan perjuangan yang tidak mudah, untuk itu dibutuhkan pribadi yang unggul dan idealisme, dalam artian kemurnian pengabdian adalah tujuan utama yang harus dikedepankan.

Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan perlu memperhatikan proses perekrutan pada bidang profesi ini dengan menekankan aspek moralitas pada kompetensi karakter kepribadian yang luhur untuk pengabdian kepada masyarakat. Bukan hanya menerima gelar yang kuantitas nilai formalitasnya tinggi tanpa adanya kualitas moral yang luhur untuk mengabdi.


5 June 2012

Jenis-jenis Kecerdasan Anak

Selama ini banyak orang yang hanya mementingkan IQ semata. Orang tua bangga jika anaknya menjadi juara misalnya olimpiade fisika, namun tanpa disadari telah menyepelekan jika ada yang jago menari, pandai bergaul, pandai berbahasa, pandai berolahraga dan sebagainya. Kejeniusan bukan semata-mata memiliki IQ di atas 130, namun jenius bisa dimiliki anak dibidang lainnya.

Lebih mengherankan lagi sekolah tempat anak mencari ilmu, mewajibkan setiap anak harus cakap di segala bidang. Sehingga pada kasus ujian nasional, sering kali mereka yang jenius dalam bidang olahraga atau seni harus tidak lulus karena gagal pada bidang tertentu yang tidak dikuasainya. Maka wajar jika hanya sedikit anak yang menyukai sekolahnya. Mereka hanya senang jika bel istirahat maupun bel pulang sekolah berbunyi. Sekolah sebagai sarana ilmu membina masa depan juga harus memiliki model kecerdasan bagi anak, sehingga kurikulum akan sesuai dengan model kecerdasan setiap anak. Berkaitan dengan kecerdasan teori multiple intelligences membagi kecerdasan anak dalam spektrum yang cukup luas.

Kecerdasan Logika
Kemampuan berfikir menurut aturan logika dan menganalisis pola angka-angka, serta memecahkan masalah melalui kemampuan berfikir ini akan memuat kemampuan anak berfikir secara induktif dan deduktif. Anak-anak dengan kecerdasan matematika dan logika yang tinggi cenderung menyenangi kegiatan analisis dan mempelajari sebab akibat terjadinya sesuatu. Mereka lebih menyenangi cara berfikir yang konseptual, menyusun hipotesis, mengkategori dan mengklasifikasi apa yang dihadapinya.

Apabila kurang memahami, mereka akan cenderung bertanya dan mencari jawaban atas hal yang kurang dimengerti. Anak yang cerdas juga sangat menyukai permainan yang melibatkan kemampuan berfikir aktif seperti permainan catur dan bermain teka-teki. Setelah remaja biasanya cenderung menggeluti bidang matematika atau IPA, dan setelah dewasa menjadi insinyur, ahli teknik, ahli statistik, dan pekerjaan-pekerjaan yang banyak melibatkan angka.

Kecerdasan Berbahasa
Kemampuan seorang anak menggunakan bahasa dan kata-kata yang baik secara lisan maupun tulisan dalam berbagai bentuk yang berbeda adalah untuk mengekspresikan gagasannya. Kemampuan berbahasa anak yang tinggi umumnya ditandai dengan kesenangannya pada kegiatan yang berkaitan dengan bahasa seperti membaca, membuat puisi, dan menyusun kata mutiara.

Anak-anak ini cenderung memiliki daya ingat yang kuat akan nama baru, istilah baru, maupun hal-hal yang sifatnya detail. Mereka cenderung lebih mudah mempelajari dengan cara mendengarkan dan verbalisasi. Dalam hal kemampuan menguasai bahasa baru, mereka umumnya memiliki kemampuan yang lebih tinggi dibandingkan dengan yang lainnya. Saat dewasa biasanya akan menjadi presenter, pengarang, penyair, wartawan, penerjemah, serta profesi lain yang lebih banyak melibatkan bahasa dan kata-kata.

Kecerdasan Musikal
Kemampuan ini memuat kepekaan seorang anak terhadap suara-suara nonverbal yang berada disekelilingnya, dalam hal ini adalah nada dan irama. Karena anak-anak lebih senang mendengarkan nada dan irama yang indah. Cara ini dapat melatih konsentrasi anak menjadi lebih fokus, jenis-jenis irama yang klasikal sangat membantu dalam proses belajar konsentrasi otak, selama jenis musik itu tidak bersifat arogan.

Model kecerdasan tersebut membutuhkan pihak-pihak yang berperan aktif dalam pembentukan kecerdasan anak. Selain orang lain, orang tua selaku pembimbing utama juga dituntut lebih aktif menata dan mengarahkan kesenangan anak pada jalur yang benar.

2 June 2012

Melawan Narkoba

Banyak definisi tentang narkoba, salah satunya narkoba adalah semua zat yang mempengaruhi cara bekerja pikiran, perasaan, persepsi dan kehendak. Penyalahgunaan narkoba bisa memberi pengaruh dramatis pada diri seseorang dan dapat menimbulkan ketergantungan. 

Beberapa riset menunjukkan salah satu bagian otak yang terkena efek narkoba adalah prefrontal cortex. Bagian ini berperan penting dalam perilaku yang terkait dengan perencanaan, evaluasi terhadap konsekuensi sebuah tindakan, serta kemampuan menahan diri untuk tidak menampilkan respons yang tidak sesuai. Bahasa sederhananya fungsi berfikir logisnya tidak optimal.

Kuatnya pengaruh narkoba terhadap otak itu akhirnya mempengaruhi tingkah laku yang berdampak negatif terhadap orang lain. Kita pernah mendengar pecandu yang berbohong dan mencuri untuk memenuhi kebutuhannya. Jadi, narkoba bukan hanya persoalan pribadi, melainkan sudah melibatkan dan merugikan banyak pihak. Misalnya saja orang tua, teman, bahkan orang yang tidak dikenal.

Seseorang tidak serta merta menjadi pecandu, mereka akan melalui serangkaian proses sebelum mencapai tingkat ketergantungan. Awalnya adalah tingkat coba-coba, lalu berangsur menjadi tingkat pengguna yang tetap. 1 dari 5 orang yang tadinya hanya mencoba-coba saja, akan terus menjadi pengguna aktif. Tingkat selanjutnya adalah kecanduan yang ditandai meningkatkannya konsumsi narkoba dan diiringi kehilangan kendali diri pengguna. Perilaku seperti berbohong, mencuri, agresif, kasar dan cenderung kriminal sangat memungkinkan sekali muncul, karena ketidakstabilan emosi yang cenderung ekstrem. Kasus overdosis kerap sekali terjadi pada tahap ini.

Untuk pecandu narkoba, tidak ada kata sembuh secara total, karena menurut banyak ahli pengaruh narkoba menimbulkan kerusakan otak yang bersifat permanen. Oleh sebab itu, jika seseorang bisa melepaskan diri dari belenggu narkoba, ia lebih tepat dikatakan telah pulih, bukan sembuh. 

Peran serta Orang Tua dan Masyarakat
Peran pendidikan dapat mencegah generasi muda dalam penyalahgunaan narkoba, tapi membutuhkan persistensi serta konsistensi yang luar biasa. Apa yang dilakukan oleh banyak lembaga tidak akan memberikan hasil yang signifikan jika tidak ada dukungan dari orang tua dan masyarakat.

Masyarakat bisa berperan aktif pula dalam proses saling mendukung dengan berbagai lembaga yang ada, mulai dari lingkungan terkecil yaitu keluarga. Mencari informasi yang relevan tentang pencegahan narkoba, sampaikan kepada anggota keluarga, teman atau saudara terdekat. Dibutuhkan juga pengawasan oleh orang tua supaya dapat terjalin hubungan yang menyenangkan dan kohesif sehingga semua anggota keluarga selalu saling merindukan.

Peran dalam masyarakat dapat menjadi kontribusi yang bagus ketika terdapat tindak kriminal yang didasarkan oleh penyalahgunaan narkoba, yaitu dengan melaporkan ke aparat penegak hukum, atau ikut menjaga keamanan dan kebersihan lingkungan dari pengaruh narkoba. Dan masih banyak yang bisa kita lakukan sebenarnya, dan unsur kemauan serta kesungguhan untuk memerangi narkoba akan memegang peranan penting. Masa depan generasi muda dan bangsa akan terselamatkan dengan cara mencegah dan menjauhi perilaku-perilaku penyalahgunaan narkoba.

1 June 2012

Makanan Pendongkrak Stamina Pria

Tugas sebagai kepala rumah tangga selain mencari nafkah untuk keluarga juga memiliki tugas lain untuk memenuhi kebutuhan biologis istrinya. Sehingga diperlukan stamina yang prima bagi kaum pria dengan membekali dirinya asupan makanan bernutrisi yang tinggi dan berkualitas baik agar tidak rentan sakit. Adakalanya kaum pria menggunakan tambahan makanan atau suplemen untuk pemenuhan gizinya, dan ada juga yang menggunakan obat-obatan pembangkit gairah sesaat. 

Berikut menu makanan yang dapat membangkitkan gairah pria agar stamina tetap terjaga. 

Daging Merah Tanpa Lemak

Jika seorang pria memiliki kegemaran menyantap daging jenis ini, kaum istri bisa sedikit bernafas lega karena daging merah adalah salah satu makanan bergizi tinggi, tapi perlu diingat dalam mengkonsumsi daging ini, pilihlah daging yang tidak berlemak agar tidak dibayang-bayangi terkena kolesterol. Daging merah sangat baik untuk pria karena mengandung leucine yang merupakan asam amino pembentuk otot.

Bolu Ceri

Buah merah yang manis ini memiliki pigmen yang bisa meniru kerja obat anti peradangan. Bonci menyebutnya sebagai anti radang alami tanpa efek samping. Sangat bagus dikonsumsi setelah berolahraga. Tujuannya adalah tidak hanya sekedar memunculkan suasana romantis, tetapi lebih kepada membantu otot-otot yang dilatih dapat terhindar dari peradangan atau cidera.

Cokelat
Cokelat bukan hanya makanan kesukaan wanita. Cemilan ini tidak hanya enak tapi juga bisa menambah gairah seksual pasangan, sebab cokelat dapat memacu hormon cinta yang mempengaruhi kualitas hubungan seksual. Pria juga membutuhkan makanan ini karena untuk menyelamatkan mereka dari ejakulasi dini. Manfaat cokelat adalah mengikis kolesterol jahat, sehingga membuat aliran darah menjadi lebih lancar. Salah satu penyebab terjadinya ejakulasi dini karena adanya hambatan pada saluran pembuluh darah. 

Kerang


Kerang atau seefood kaya akan kandungan zinc yang baik untuk jantung, otot dan sistem reproduksi. Penelitian membuktikan, pria dengan kualitas sperma buruk biasanya ditandai dengan kurangnya zinc dalam tubuh. Jika pria memiliki alergi terhadap makanan ini atau tidak suka seefood, dapat digantikan dengan kacang-kacangan untuk tetap memasok zinc ke dalam tubuh.

Avokad
Avokad memiliki kandungan lemak tidak jenuh yang tinggi karena dapat mengikis lemak trans dari makanan yang terkonsumsi misalnya dari gorengan. Namun untuk mengonsumsinya dianjurkan tidak lebih dari 25-35 persen dari total lemak yang dibutuhkan tubuh setiap harinya. 

Lemak Ikan
Ikan salmon dan ikan tuna mengandung lemak yang menyehatkan. Didalamnya terdapat omega-3 yang dapat melindungi jantung dan menyelamatkan kita dari kanker serta arthritis. Penelitian membuktikan bahwa 2 porsi ikan salom dan ikan tuna dalam satu minggu sudah cukup untuk menekan terjadinya serangan jantung.

Jahe
Jahe miliki aroma yang khas, sebagian orang memanfaatkan jahe sebagai bumbu masakan juga sebagian memakainya sebagai campuran pada minuman untuk menghangatkan tubuh. Sangat cocok jika minum teh hangat dicampur jahe yang dibakar dikala cuaca diingin. Jahe juga memiliki khasiat sebagai anti radang. Mengonsumsi jaher secara regule dapat mengurangi cidera otot pasca olahraga.  

Susu dan Yogurt
Keduanya adalah makanan yang dapat membantu tubuh menimbun leucine, asam amino pembentuk otot. Selain itu didalamnya terdapat protein, potasium dan bakteri baik yang dapat membuat usus tetap sehat. 

Pisang
Kelebihan pisang adalah mengandung potasium yang luar biasa banyak. Pria membutuhkan potasium untuk membentuk kontraksi otot dan kesehatan tulang. Selain itu potasium dapat menekan kadar sodium dalam darah. Bagi penderita tekanan darah tinggi, buah ini dapat menjadi penurun tekanan darah secara alami.

Sayuran Orange

Oranye adalah lambang beta karotin, lutein, dan vitamin C dalam dunia zat warna tumbuhan. Sayuran ini akan membantu pria terhindar dari resiko kanker prostat. Hal ini telah diumumkan oleh American Journal of Clinical Nutrition. Contoh sayuran berwana oranye ini adalah wortel, labu dan paprika.

Budaya Boros

Masyarakat pada umumnya memandang pemborosan adalah sesuatu yang sia-sia dilakukan jika dilihat dari segi  fungsi dan manfaatnya. Namun rupanya pemborosan masih menjadi budaya dikalangan masyarakat itu sendiri terlepas dalam konteks yang berbeda. Dalam penggunaan bahasa pun jelas terlihat, ternyata bahasa yang kita gunakan mengarah kepada pemborosan kata perkata maupun per kalimat. Menurut ahli tata bahasa, kita menggunakan kata-kata yang terangkai sesuai dengan kaidah yang berlaku yang bertujuan agar dapat mengungkapkan gagasan, perasaan, atau pikiran yang ada dalam benak kita. 


Sering kali pemakaian kalimat seperti "maju ke depan", "mundur ke belakang", "naik ke atas", "turun ke bawah", "masuk ke dalam", secara spontan kalimat tersebut terucap tanpa kita sadari bahwa kalimat tersebut sudah bermakna sama, tetapi kita tidak perhatikan bahwa telah terjadi pemborosan kata. Memang tidak menjadi masalah bagi lawan bicara yang mendengarkan, karena mitra bicaranya pun tidak memahaminya tetapi cukup mengerti maksud kalimat tersebut.

Penggunaan kata-kata tersebut jelas kurang tepat karena menjadi tidak efektif. Untuk mengefektifkan yaitu dengan membuang kata yang sudah terwakili maknanya. Ilustrasi kalimat yang biasa terjadi pemborosan  misalnya "Orang itu naik ke atas meja". Kata naik dan atas sudah merujuk kepada pengertian yang sama, alangkah baiknya jika disederhanakan "orang itu naik ke meja" sudah cukup memiliki makna yang tepat juga efektif. 

Tidak sebatas itu saja, sebagian masyarakat juga tidak konsisten ketika menggunakan frasa-frasa tersebut. Disengaja atau tidak aktivitas dalam berbahasa sebagai alat berkomunikasi ternyata telah mengabaikan kaidah bahasa itu sendiri. Alangkah baiknya kita lebih bijaksana dalam berbahasa dan tidak boros dalam menggunakan kata-kata sesuai dengan slogan "Gunakan Bahasa dengan Baik dan Benar".