21 November 2012

Menjaga Konsentrasi Dalam Pekerjaan

Bagi yang senang berkecimpung dengan dunia pekerjaan dibidang apapun, dituntut untuk menghasilkan sebuah hasil yang maksimal, dapat digunakan dan juga dapat bermanfaat bagi orang lain. Namun tidak sedikit pula ada pekerjaan yang digeluti tersebut menemui kesulitan-kesulitan, misalnya susahnya untuk berkonsentrasi terhadap masalah yang dihadapi. Sudah pasti hal ini akan berimbas pada hasil yang tidak maksimal sesuai harapan. Hal tersebut dapat dijadikan faktor penghambat yang paling utama dalam bidang-bidang pekerjaan dimanapun berada.

Bidang pekerjaan apapun ternyata memerlukan keseriusan dalam berfikir sebelum bertindak. Dan sebelum tindakan dilakukan, umumnya dilakukan penalaran fikir agar langkah tindakan yang akan diambil dapat menemukan solusi terbaik dan didapat pengakuan maksimal dari orang lain pula. Sulitnya menemukan suasana konsentrasi pada ruang-ruang pekerjaan biasanya terkendala karena faktor keadaan lingkungan kerja, situasi psikologi pekerja itu sendiri atau pekerjaan itu sendiri yang menuntut otak untuk berfikir kerja sehingga melelahkan energi otak untuk berfikir cepat.

Peristiwa-peristiwa munculnya ketidakharmonisan dalam lingkungan kerja juga dapat timbul oleh sebab kurangnya kita dalam berkonsentrasi terhadap pekerjaan yang kita lakukan. Ditambah lagi sikap pimpinan yang sewenang-wenang dalam memerintah bawahannya untuk menuntaskan pekerjaan sesuai keinginannya tanpa melihat situasi dan kondisi psikologi bawahannya, apakah sedang mengalami masalah atau tidak, dan ternyata kejadian ini banyak dialami oleh para pekerja yang kebetulan memiliki jabatan rendah.

Menjaga konsentrasi dalam menghadapi pekerjaan yang kita geluti tidaklah mudah, perlu diimbangi dengan rasa kesabaran yang tinggi dan rasa keikhlasan dalam menjalankannya. Suasana hati dan pikiran seorang karyawan dalam melakukan aktivitas pekerjaannya tidaklah sama setiap harinya. Hal inilah yang perlu disiasati agar kita tidak terjebak oleh kemelut pikiran kita sendiri dalam menyelesaikan masalah pada pekerjaan kita sendiri. Otak manusia yang aktif digunakan untuk bekerja tentunya juga memerlukan penyegaran setiap harinya. Karena menurut para ahli kapasitas otak manusia yang bekerja dengan berfikir menggunakan pikirannya jauh lebih banyak membutuhkan kalori dibandingkan dengan pekerja keras seperti petani yang seharian mencangkul disawah yang hanya membutuhkan setengah dari kalori orang yang bekerja dengan menggunakan otak.

Agar konsentrasi fikiran tetap terjaga dalam menjalankan aktivitas pekerjaan kita, hendaknya yang perlu kita lakukan adalah dengan menjaga fitalitas stamina tubuh agar tetap segar dan fit setiap hari. Usahakan menghindari faktor-faktor penyebab terjadinya kelelahan dalam berfikir misalnya memaksakan diri untuk dapat menyelesaikan pekerjaannya dalam waktu yang relatif cepat. Kalaupun kita dituntut untuk lebih cepat dalam menyelesaikannya, hendaknya tidak sungkan meminta pertolongan kepada rekan kerja lainnya. 

Selain menjaga pola makan perlunya mengkonsumsi vitamin agar stamina tubuh tetap terpelihara. Tapi ada sebagian orang yang tidak dapat bekerja tanpa lepas dari merokok. Hal ini perlu dihindari karena akan menghambat kinerja otak dalam menemukan ide-ide baru untuk menyelesaikan pekerjaan kita. Adapun ada orang yang demikian karena hal tersebut sudah merupakan kebiasaannya dalam melakukan aktivitas pekerjaannya tidak lepas dari merokok. 

Cara yang paling sederhana dalam menjaga konsentrasi dalam pekerjaan kita adalah dengan tidak berfikir diluar kemampuan kita. Artinya apapun pekerjaan kita, pintar-pintarlah kita menempatkan waktu dan suasana fikiran kita agar tidak tercampur aduk dengan masalah diluar tanggung jawab pekerjaan kita dengan semua aktivitas yang kita miliki. Dan selelu berfikir positif serta memiliki rasa tanggung jawab yang tinggi agar suasana hati dan pikiran kita tertap tertata dengan baik.

14 November 2012

Ajarkan Anak Kenali Fungsi Kelamin

Tak sedikit orang tua cepat panik ketika melihat anak laki-lakinya asik bermain boneka cantik, sementara ada pula orang tua cepat khawatis ketika anak perempuannya tumbuh menjadi anak yang tomboy, bermainnya mobil-mobilan atau perang-perangan yang lazimnya dimainkan oleh anak laki-laki. Tentu saja selaku orang tua akan panik dan merasa cemas ketika melihat anaknya memiliki tabiat memainkan sesuatu yang bukan semestinya.

Hal ini bisa dipahami karena adanya stereotip pada masyarakat, bahwa yang laki-laki harus terlihat jantan dan perempuan harus terlihat lemah lembut. Atas pemahaman tentang adanya stereotip inilah maka sejak kecil orang tua harus berusaha mendidik putra-putrinya sesuai dengan norma yang berlaku. Seperti warna pink untuk perempuan, dan warna biru untuk anak laki-laki. 

Stereotip ini justru akan menghambat perkembangan anak-anak secara optimal, selaku orang tua tidak perlu khawatir ketika anaknya yang masih usia dini mengenal jenis permainan yang tidak sesuai menurut anggapan masyarakat umum, asalkan sejak dini pula orang tua memberikan bimbingan kepada putra-putrinya tentang pentingnya mengenal peran dan jenis kelaminnya.

Umumnya pengenalan jenis kelamin dimulai sejak usia anak sekitar 5 tahun, seorang anak sudah memahami jenis kelaminya sendiri. Hal ini diperoleh melalui proses mengamati dan memahami orang tua serta orang-orang yang berada disekitarnya, terutama dari segi perbedaan fisik antara laki-laki dan perempuan.

Untuk menegaskan perbedaan jenis kelamin tersebut, orang tua haruslah mengatakan kepada anaknya bahwa bila anak perempuan harus dibiasakan mengenakan baju gaun dan anak laki-laki dengan baju kemeja. Serta pujian-pujian yang harus dibiasakan pada telinga sang anak agar terbiasa dengan kalimat-kalimat tersebut, bahwa jika anak laki-laki itu ganteng dan perempuan itu cantik. Selain mengajarkan dan memberikan bimbingan mengenai perbedaan jenis kelamin, orang tua sebaiknya mengimbanginya dengan membimbing mengenai peran jenis kelaminnya, misalnya ketika sedang bermain bersama anaknya.

Ketika anak perempuan sedang menggendong boneka, maka si ibu bisa mengatakan bahwa kelak dirimu akan menjadi seorang ibu, yang akan merawat anak-anakmu seperti ibu merawatmu saat ini. Dan begitu pula kepada anak laki-lakinya akan menjadi seorang ayah yang hebat. Sehingga kelak si anak laki-laki juga akan peduli dengan pengasuhan anak-anaknya.  

Dalam hal mendidik anak, mengajarkan tentang perbedaan jenis kelamin juga harus dibarengi dengan pengajaran peran-peran jenis kelaminnya, karena bila ada anak laki-laki yang kemayu seperti perempuan itu identik bahwa dia tidak bisa melakukan peran jenis kelaminnya sebagai laki-laki. Sebaliknya anak perempuan yang tomboy, bukannya tidak bisa melahirkan, menyusui dan merawat anak, bisa jadi sikap tomboy yang dimilikinya karena faktor lingkungan. Oleh karenanya peran orang tua dalam hal mendidik anaknya sangat penting dan menjadi perhatian bagi para orang tua untuk tumbuh kembang anaknya menjadi pribadi-pribadi yang ideal. Dari berbagai sumber.