19 March 2013

Apa Bedanya Antara Iklhas dengan Sabar

"Kesabaran ada batasnya" Kalimat yang tidak asing ditelinga kita.
"Ikhlaskan saja .......". Juga kalimat yang berkonotasi sama yang sudah tidak asing lagi ditelinga.

Adakan perbedaan antara 'sabar' dan 'iklhas'?.
Sebagian menganggap ada perbedaan yang jauh dari makna dan arti ke dua kata tersebut. Sudah pasti berbeda jika dimaknai kata per kata, namun jika dimaknai dengan bersamaan dua arti kata tersebut hampir mendekati persamaan. Seseorang sedang mengalami permasalahan di keluarganya dan hampir terjadi perceraian, ada sebuah ucapan dahsyat keluar dari mulutnya "Kesabaran ada batasnya......dst!.

Pemaknaan arti kalimat sabar yang terucap tentu sangat berbeda jauh dengan arti kata ikhlas. Dipihak lain seseorang sedang mengalami suatu kehilangan yang berarti dalam hidupnya, "Ikhlaskan saja......dst. Sudah barang tentu kita dapat menebaknya makna yang terucap dari kalimat tersebut.

Dua kata sabar dan ikhlas jika dimaknai bersamaan artinya, jika kita sedang mengalami suatu kondisi yang didalamnya mengharuskan kita untuk merasakan sabar dan ikhlas itulah yang menjadi pertanyaan. Apakah harus dimaknai terpisah ataukah secara bersamaan? Misalnya dilema kebutuhan ekonomi yang melanda kas keuangan keluarga kita sedang kacau. Mungkin hal tersebut lebih tepat disebut sebuah dilema yang harus segera diatasi secepatnya karena menyangkut nasib hidup sebuah keluarga. Sedangkan kondisi pekerjaan tidak menentu ditambah dengan sumber  pemasukan yang kian tidak menentu. Ada pesan-pesan moral yang sering terucap dari mulut kawan dekat kita, yang mengharuskan kita bersabar dalam menghadapinya, dan ikhlas dalam menjalaninya. 

Pemaknaan inilah yang menjadi pertanyaan sekarang, dimanakan letak perbedaan ke dua kata tersebut jika harus dihadapkan oleh situasi yang sangat tidak menentu, seperti prahara rumah tangga, masalah keuangan, masalah pekerjaan dengan mitra kerja, dan sebagainya. 

Mungkin ada sisi lain yang mungkin dapat ditelaah dari pemaknaan kata-kata tersebut. Jika perbedaan dua kata tersebut harus berbeda dengan situasi yang berbeda, mungkin hal itu sudah pasti mudah dicerna, tapi jika suatu kondisi yang terjadi seperti di atas sedang kita alami, mungkinkan ada perbedaan diantara ke dua kata tersebut? 

Ada kesimpulan kecil yang mungkin dapat diambil sebagai catatan kecil. Tergantung kondisi seseorang tersebut dalam menghadapi segala permasalahan yang dihadapinya, dan tergantung dari pribadi masing-masing dalam menempatkan makna kata yang hampir selalu bersamaan dibawa ke sebuah permasalahan yang terjadi. 

Sebuah kata bijak "Tuhan bersama orang-orang yang sabar...," dan keikhlasan selalu berbuah kebahagiaan. 
Semoga bermanfaat.

1 February 2013

Meraih Kebebasan Finansial

Siapapun pasti ingin meraih kebebasan secara finansial. Berdasarkan buku yang penulis baca yaitu ajaran klasik "The Richest Man in Babylon" karya Goerge S. Clason menjelaskan bahwa ada kalimat yang menarik untuk dipahami adalah : "sebagian dari seluruh pendapatanmu harus disisihkan untuk diri sendiri". Dengan arti kata yang dapat penulis pahami adalah menabung maupun berinvestasi, dan menurut penulis sendiri hal tersebut adalah suatu keharusan dan sebagai tujuan mutlak ke masa depan yang harus diperhatikan dan harus diperjuangkan.

Lalu berdasarkan ajaran yang lebih klasik lagi yaitu, "sebagian kecil hartamu ada hak orang lain yang harus disampaikan". Memang tidak ada hubungannya dengan ajaran yang telah dibukukan oleh para pakar seperti penulis buku tersebut maupun pakar-pakar lainnya. Apa kaitannya dengan meraih kebebasan secara finansial dengan memberikan sebagian kecil harta kita kepada orang lain, sedangkan secara matematika hal  itu tentu akan menyusutkan nilai aset yang telah lama dikumpulkan. Apakah kontribusinya untuk aset kita jika harus memberikan sesuatu milik kita kepada orang lain?

Masih berdasarkan judul di atas, artinya agar bebas secara finansial, kita dianjurkan menyisihkan kurang lebih 10% dari total penghasilan selama bekerja. Cara  inilah yang dimaksudkan cara klasik menurut buku tersebut sehingga muncullah falsafah menabung "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit (banyak)". Cara ini kerap diajarkan setiap orang tua kepada anak-anaknya yang masih kecil untuk belajar menabung agar berefek positif kepada penghematan kebutuhan yang bersifat materi (uang).

Dan kaitannya pada paragrap kedua dengan maksud kebebasan finansial yang diajarkan menurut cara klasik tersebut adalah pembentukan karakter agar pandai memenejemen keuangan serta pendidikan kepribadian bersifat sosial terhadap orang lain. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ke dua hal yang bersifat pendidikan tersebut telah diajarkan oleh orang tua kita sejak kita masih kecil?

Lalu apakah adanya sifat pelit yang dimiliki oleh seseorang karena tidak diajarkannya kedua pendidikan tersebut sejak kecil? Sepertinya sedikit atau bahkan tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bersikap pelit terhadap orang lain. Hanya saja mengapa hal tersebut bisa terjadi dan banyak sekali orang-orang disekitar kita mengalami hal tersebut. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Umumnya hanya satu sisi dari segi pendidikan yang diajarkan oleh para orang tua kepada anaknya yaitu, diajarkan untuk berbagi kepada teman sepermainanya ketika si anak memiliki sesuatu seperti makanan. Itupun terbatas kepada teman-teman dekatnya atau saudara-saudaranya sekandung. Pendidikan inilah yang kerap kali kita dapati sejak masih kecil hingga diharapkan kelak dewasa nanti akan membuat si anak memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap orang lain. Namun orang tua kita tidak hanya sekedar mengajarkan anaknya sifat-sifat kesosialan saja, tetapi juga pendidikan akhlak, mengajarkan untuk saling menghargai orang lain dan sebagainya. Yang pada intinya mendidikan anak untuk dapat menjadi manusia yang memiliki jiwa yang manusiawi.

Meraih kebebasan secara finansial merupakan inti masalah manusia ketika manusia tersebut sudah memiliki rasa kebutuhan maupun keinginan akan sesuatu kepuasan yang bersifat materi dan immateri. Dan dalam hal pemenuhan kebutuhan tersebut berbeda-beda cara pun dilakukan manusia untuk meraihnya, dan seolah-olah manusia itu sadar dengan sendirinya bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus melalui dan melakukan sesuatu kerja yang optimal. Konsep pendidikan yang diajarkan oleh orang tua kita sebenarnya merupakan dasar-dasar yang secara alamiah tertanam di jiwa kita ketika menginjak usia dewasa. Hanya saja kita sering kali terlupa akan konsep-konsep yang diajarkan tersebut walaupun hanya sekedar mengingatnya saja. Sepertinya jika harus dibilang jurus, alangkah baiknya jika jurus tersebut kita namanaya back to basic, "from zero to hero".

Yang menjadi kesimpulan secara sederhana adalah "kerja keras akan membuahkan hasil", "bangkit dari kegagalan baiknya menjadi motivasi", apatisme dilawan dengan optimisme", dan mensyukuri apapun yang telah terjadi, baik itu bagus maupun tidak. Namun semangat untuk meraih kebebasan yang dituju tidak lepas dari visi dan misi sepanjang kebebasan secara finansial tersebut belum tercapai ditangan.

Setiap keberhasilan atas suatu perjuangan ada syarat-syarat yang harus dilalui, dan setiap keberhasilan sebuah penghasilan ada pula syarat-syarat yang harus dipenuhi. Rasa ingin berbagai sebenarnya menjadi naluri alamiah sejak manusia lahir, namun desakan secara materiil yang menggelapkan pandangan kita akan nikmatnya berbagi kepada orang lain. Kita dapat lalui hal itu dengan rasa cinta dan rasa sayang terhadap manusia, bukan berpikir individualisme saja. Anjuran untuk berbagi atas apa yang telah kita dapatkan adalah refleksi wujud kebersamaan untuk berbagi kepada yang kurang mampu, yang artinya secara tidak langsung rasa syukur itu selalu kita lakukan atas sesuatu kemurahan yang diperoleh.

Dan secara psikis akan mensucikan jiwa kita dari hal-hal yang berbau individualisme, dan secara hukum alam yang tidak terjemahkan justru akan semakin membuka lebar pintu rejeki kita ke arah masa depan. Satu syarat yang sangat sederhana sekali, menyisihkan walaupun 10% dan berbagai atas hasil walaupun 2.5% sepertinya syarat ini sudah cukup bagi kita untuk menikmati kebebasan secara finansial. Semoga bermanfaat.

5 January 2013

Belajar Dengan Bayi

Setiap manusia pernah menjadi bayi dan pernah menjadi bayi (anak kecil), proses ini menjadi rahasia tuhan tanpa ada yang mengetahui sejak kapan berlangsungnya. Setelah bayi dilahirkan hingga tahun pertama, bayi perlu ekstra bimbingan dalam rangka mendidik dan membesarkan secara fisik, karakter, mental dan sebagainya yang itu menjadi tanggung jawab si orang tua selaku yang diamanatkan untuk mendidiknya. Orang tua yang mendidik anaknya bertujuan untuk mengenalkan ilmu dunia dan akhirat kepada si anak agar dapat tumbuh dan berkembang sesuai dengan tujuan hidup kedua orang tuanya. Setiap orang tua yang mendidik anaknya memiliki tujuan yang sama yaitu untuk mengenalkan ilmu-ilmu yang ada sebagai pelajaran kehidupan si anak.

Saat ini kemajuan teknologi yang semakin maju kian mendukung dalam mencari dan mempelajari cara-cara maupun metode-metode untuk mendidik anak menjadi yang diharapkan. Media internet yang semakin mudah diakses menjadi peran penting dalam menambah wawasan orang tua dalam mendidik anaknya. Tidak hanya dunia internet saja, media masa-media masa pun selalu menayangkan acara-acara yang bersifat mendidik, bahkan buku-buku yang khusus mempelajari pendidikan anak pun sekarang mudah didapatkan. Orang tua yang memahami pentingnya pendidikan bagi anak tentu akan berupaya semaksimal mungkin untuk mengajarkan anaknya agar menjadi insan yang beradab.

Anak kecil, sebut saja balita memiliki tingkat kecerdasan yang berbeda-beda. Hal ini dapat dilihat dari sikap yang dilakukannya terhadap sesuatu atau mainan yang di sukai. Terlebih lagi jika mainan tersebut telah menjadi idola bagi si anak. Rasa memiliki yang tinggi sehingga enggan untuk berbagi adalah menjadi ciri khas anak balita. Namun sebagian orang tua yang lain sikap tersebut bukan hal yang wajar dilakukan oleh anak kecil atas dasar alasan tertentu. Maka dapat dikatakan wajar jika perilaku tersebut dimiliki oleh si anak, namanya juga anak kecil yang belum memiliki penalaran.

Justru hal yang tersebut dapat kita jadikan pelajaran yang berarti jika kita mau mengamati lebih mendalam lagi, apakah sifat-sifat anak yang terlihat dari perilakunya dapat kita jadikan pelajaran bagi orang dewasa. Lebih jelas lagi jika hal itu dapat terjemahkan dalam bentuk perilaku bagi orang dewasa. Misalnya sikap memiliki yang tinggi si anak akan sesuatu yang ia sayangi dapat kita duplikasi menjadi sebuah bentuk kepribadian bagi orang dewasa jika telah membina rumah tangga. Rasa memiliki yang tinggi itulah patut dicontoh bagi orang dewasa. Bukan berarti memiliki sikap pelit terhadap sesuatu benda yang disayanginya, namun muatan sosialnya yang perlu ditiru. 
 
Contoh yang lain jika si anak berlari tanpa melihat sesuatu di depannya berbahaya atau tidak. Bagi orang tua dewasa tentu hal tersebut menjadi pekerjaan rumah yang ekstra tinggi, karena kekhawatiran akan hal tersebut terjadi, si anak yang sudah dapat berjalan bahkan berlari sampai ke jalanan yang kebetulan sedang ramai kendaraan berlalu lalang. Hal ini menjadi momok yang menakutkan bagi orang tua. Tergantung bagaimana orang tua mengawasi perilaku bermain si anak ketika sedang bermain di luar rumah. 
 
Hal yang dapat kita ambil sebagai pelajaran adalah dalam hal sikap totalitas melakukan sesuatu yang ada. Mungkin hal ini dapat ditemukan dalam dunia pekerjaan yang sedang kita jalani. Bagaimana sikap totalitas serta loyalitas yang tinggi perlu dimiliki oleh orang dewasa. Anak kecil tentu tidak akan paham dengan bahaya yang akan dihadapinya ketika ia menyeberang jalan tanpa melihat situasi sekitarnya. Dan tanpa memikirkan resiko besar atau tidak sudah pasti si anak akan terus berlari hingga sampai pada tujuannya.
 
Bagi orang dewasa sikap tersebut tentunya dapat menjadi referensi yang baik dalam hal menyelesaikan sesuatu masalah apapun yang dihadapinya. Tentunya dalam hal yang lainnya kita sebagai orang dewasa akan lebih memahami sikap-sikap anak kita yang menurut orang dewasa masih perlu bimbingan dan pengawasan. Namun dibalik sikap-sikap anak kecil tersebut terselip bahan pelajaran bagi kita sebagai orang yang telah dewasa. Dan tentunya masih banyak bahan pelajaran-bahan pelajaran yang dapat kita jumpai.
semoga bermanfaat.