Keinginan manusia yang super sibuk dengan pekerjaannya tidak dapat diukur berdasarkan kemampuan imajinasi yang dimilikinya. Sumber inspirasinya berasal dari tekad dan cita-citanya demi sebuah tujuan untuk kelayakan hidup yang didambakan baik secara pribadi maupun oleh yang memotivasinya. Satu kalimat "demi dan untuk" seakan menjadi sesuatu prioritas yang melebihi apapun.
"Demi keluarga", untuk masa depan anak-anak. Demi sebuah status sosial, untuk membuktikan diri pada mereka yang meragukan. Demi sebuah mimpi, untuk mewujudkan warisan abadi. Frasa ini menjadi mantera pribadi yang diulang setiap kali matahari terbit dan sebelum kepala menyentuh bantal. Ia adalah bahan bakar yang menggerakkan mesin yang hampir kehabisan tenaga, pencahayaan di ujung terowongan yang terasa tak berujung.
Namun, dalam laju kehidupan yang serba cepat ini, seringkali ada yang terlupakan. Manusia yang berlari demi tujuan, kadang lupa menikmati perjalanan. Ia begitu fokus pada puncak gunung hingga tak menyadari keindahan lembah yang dilewatinya. Waktu yang seharusnya dihabiskan dengan tawa bersama orang tersayang, tergantikan oleh dentingan notifikasi email. Kesehatan yang menjadi modal utama, dikorbankan demi satu jam lembur lagi. Jiwa yang haus akan inspirasi dan kedamaian, justru dipaksa menenggah aspal dan kebisingan kota.
Paradoksnya, tujuan utama dari semua perjuangan itu—kelayakan hidup dan kebahagiaan—justru bisa terkikis dari dalam. "Demi dan untuk" yang semula menjadi pendorong, perlahan bisa berubah menjadi penjara yang membelenggu. Kebahagiaan ditunda untuk "nanti", kesuksesan diukur dari materi, dan hubungan interpersonal menjadi transaksional. Manusia itu berubah menjadi mesin pencapai tujuan yang efisien, tetapi kehilangan esensinya sebagai manusia yang merasakan.
Maka, di sinilah letak kunci sejatinya. Kebijaksanaan sejati bukanlah tentang menghentikan perjuangan, melainkan menemukan keseimbangan. Ia adalah kemampuan untuk menyadari bahwa perjalanan "demi dan untuk" itu tidak harus ditempuh dengan cara mengorbankan diri. Sejenak berhenti bukan berarti menyerah, melainkan cara untuk mengisi ulang bahan bakar. Menghabiskan waktu untuk hal-hal yang tidak produktif—seperti menatap awan, berjalan tanpa tujuan, atau sekadar mendengarkan musik tanpa gangguan—bukanlah pemborosan waktu, melainkan investasi untuk kesehatan mental dan spiritual.
Pada akhirnya, kehidupan yang layak dan didambakan bukanlah sekadar titik akhir yang harus diraih dengan susah payah. Ia adalah sebuah proses yang terus berjalan, sebuah kanvas yang dilukis setiap hari dengan warna-warni kesibukan, ketenangan, ambisi, dan syukur. Jadi, biarkanlah "demi dan untuk" menjadi kompas yang memberi arah, tetapi jangan biarkan ia menjadi satu-satunya peta yang kau ikuti. Karena kadang, jalan terindah menuju tujuan adalah jalan yang memungkinkanmu untuk menikmati setiap langkahnya.
