Unduh Adobe Flash player

23.5.12

Anemia Hemolitik Autoimun

Masyarakat umum mungkin tidak terlalu mengerti anemia hemolitik autoimun, meskipun penyakit ini lebih langka dibandingkan dari penyakit leukemia, dan banyak terjadi menyerang terutama pada perempuan di usia produktif. Penyakit ini disebabkan beberapa faktor, dimulai dari faktor keturunan, virus sampai faktor mengkonsumsi obat-obatan dalam jangka waktu yang lama. Penyakit ini terdapat dua tipe yaitu Anemia Hemolitik Hangat dan Anemia Hemolitik Dingin, sehingga harus benar-benar dilakukan tes darah dikarenakan gejalanya hampir tidak dapat diketahui. sumber.

Pada umumnya penyakit ini dapat diketahui setelah melakukan transfusi, hal ini juga yang sering dilakukan oleh penderita penyakit ini, namun adakalanya penderita enggan melakukannya dikarenakan darah yang akan ditransfusi harus benar-benar cocok dengan darah penderita. Transfusi darah yang dilakukan dapat menyebabkan masalah pada penderita anemia hemolitik autoimun. Bahkan Bank Darah pun sampai mengalami kesulitan dalam menemukan darah yang tidak bereaksi terhadap antibodi, dan transfusinya sendiri dapat merangsang pembentukan lebih banyak lagi antibodi.

Kemunculan penyakit ini dikarenakan reaksi yang dipengaruhi oleh sejumlah antigen-antibodi, kemudian reaksi imunitas yang berasal dari diri sendiri hingga menyebabkan sel darah merah menghancurkan diri. Umur sel darah merah umumnya 120 hari, kemudian sel ini akan menghancurkan diri lebih cepat dari waktunya. Lalu akibat yang ditimbulkannya adalah daya tahan tubuh akan menurun, kemudian tulang akan membesar sehingga membuat kondisi tidak nyaman pada tubuh.

Kadang sistem kekebalan tubuh memang mengalami gangguan fungsi dikarenakan reaksi penghancuran diri oleh sel darah merah dan adanya kekeliruan mengenali sel darah merah sebagai bahan asing (reaksi autoimun). Sehingga jika suatu reaksi autoimun ditujukan kepada sel darah merah, maka akan terjadi anemia hemolitik autoimun.

Anemia hemolitik autoimun dibedakan dalam dua jenis utama, yaitu anemia hemolitik antibodi hangat dan ini yang paling sering terjadi serta anemia hemolitik antibodi dingin. Menurut sumber anemia hemolitik autoimun memiliki banyak penyebab, namun sebagian besar penyebab itu tidak diketahui (idiopatik). Diagnosis ditegakkan jika pada pemeriksaan dilakukan di laboratorium ditemukan antibodi (autoantibodi) dalam darah yang terikat dan bereaksi terhadap sel darah merah sendiri.

Seperti yang telah dibahas sebelumnya terdapat dua jenis anemia hemolitik yaitu: 

Anemia Hemolitik Antibodi Hangat. Adalah suatu keadaan di mana tubuh membentuk autoantibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah pada suhu tubuh. Autoantibodi ini melapisi sel darah merah yang kemudian dikenalinya sebagai benda asing dan kemudian dihancurkan oleh sel perusak dalam limpa atau dalam hati serta sumsum tulang.

Sepertiga penderita anemia jenis ini akan menderita suatu penyakit tertentu seperti limfoma, leukemia atau penyakit jaring ikat, lupus eritematosus sistemik, atau telah mendapatkan obat tertentu terutama metildopa. Gejalanya lebih buruk dari yang diperkirakan, hal ini dimungkinkan karena anemia berkembang lebih cepat. Limpa akan membesar, dan sebagian perut atas sebelah kiri akan terasa nyeri dan tidak nyaman. Adapun pengobatannya tergantung dari penyebabnya, jika penyebabnya tidak diketahui akan diberikan kortikosteroid dengan dosis tinggi. Awalnya melalui intravena selanjutnya dengan per-oral (ditelan). Adakalanya penderita memerlukan pembedahan untuk mengangkat limpa agar fungsi limpa berhenti sebagai penghancur sel darah merah yang terbungkus oleh autoantibodi. Hal ini berhasil mengendalikan anemia sekitar 50% pada penderita penyakit ini. Jika pengobatan ini gagal dilakukan maka akan diberikan obat yang akan menekan sistem kekebalan tubuh misalnya siklosporin dan siklofosfamid.

Anemia Hemolitik Antibodi Dingin. Adalah suatu keadaan dimana tubuh membentuk autoandibodi yang bereaksi terhadap sel darah merah dalam suhu ruangan atau  dalam suhu yang dingin. Anemia jenis ini dapat berbentuk akut atau kronik. Bentuk akut sering terjadi pada penderita infeksi akut, terutama pneumonia tertentu atau mononukleosis infeksiosa. Bentuk akut biasanya tidak berlangsung lama, relatif ringan dan menghilang tanpa pengobatan.

Bentuk kronik lebih sering terjadi pada wanita terutama penderita rematik atau artritis yang berusia di atas 40 tahun. Bentuk kronik biasanya menetap sepanjang hidupnya, namun sifatnya ringan dan hanya menimbulkan sedikit gejala. Jika cuaca dingin akan meningkatkan penghancuran sel darah merah dan akan memperburuk nyeri sendi, serta dapat menyebabkan kelelahan dan sianosis (warna kebiruan pada kulit) pada tangan maupun lengan.

Penderita yang tinggal di daerah bercuaca dingin akan memiliki gejala yang lebih berat dibandingkan yang tinggal di iklim hangat. Diagnosis yang ditegakkan pada pemeriksaan di laboratorium ditemukan antibodi pada permukaan sel darah merah yang lebih aktif pada suhu yang lebih rendah dari suhu tubuh. 

Tidak ada pengobatan khusus bagi penderita penyakit jenis ini, pengobatannya ditujukan hanya untuk mengurangi gejalanya saja. Bentuk akut yang berhubungan dengan infeksi akan membaik dengan sendirinya dan jarang sekali menyebabkan gejala yang serius. Cara baik adalah dengan menghindari sebisa mungkin cuaca dingin, hal ini dilakukan agar dapat mengendalikan bentuk yang lebih kronik.

Posting Komentar
home