Unduh Adobe Flash player

18.9.12

Syukur dan Kebahagiaan

Syukur. Salah satu resep kebahagiaan hidup manusia adalah pandai bersyukur, karena dengan bersyukur terhadap apa pun yang telah berikan kepada kita Tuhan akan menambah berlipat-lipat nikmat-Nya. Sebaliknya penyesalan, putus asa, atau bahkan kufur terhadap nikmat tuhan, maka ancaman yang sangat pedih akan ditimpakan.

Sebagai hamba kita tidak patut untuk menyesali apapun yang telah terjadi, hari kemarin yang telah berlalu kita jalani sudah selesai. Ia telah kita tinggalkan bersama waktu yang terus bergerak maju bersamaan dengan terus berkurangnya usia kita. Andaikan seluruh isi dunia ini bersatu untuk mengubah hari kemarin, maka yang sudah kita jalani kemarin tidak mungkin akan terulang kembali.

Demikian pula dengan hari esok, sesuatu yang belum terjadi dan masih merupakan rahasia Tuhan, karena itu kita jangan terlalu cemas, apakah hari esok kita akan mendapatkan kebahagiaan hidup yang lebih dibandingkan dengan hari ini. Sikap yang paling tepat adalah dengan bersyukur dari apa yang telah diberikan Tuhan pada hari ini. Kalau sekarang kita bisa meminum secangkir kopi manis, jangan sesali kalau ternyata kemarin kita hanya dapat meminum air putih biasa, dan sebaliknya terlalu berkhayal besok akan minum susu.

Memang benar, hari ini harus lebih baik dari hari kemarin, dan hari esok harus lebih baik dari hari ini. Lebih baik di sini, artinya lebih kepada sikap kita menyikapi segala kemungkinan hidup kita. Jadi yang terpenting kita selalu optimis menghadapi segala moral dan etika yang baik, berakhlak mulia dan jangan sekali-kali terlena atau menenggelamkan diri ke dalam kubangan nafsu dan jebakan-jebakan yang telah disiapkan iblis.

Kebahagiaan. Kalau keberadaan nasib kita hari ini kurang beruntung, atau sepanjang umur kita didera oleh kesusahan, itupun bukan menjadi alasan kita untuk kehilangan kegembiraan. Janganlah engkau bersedih ketika dikepung kesulitan, dan jangan pula engkau terlalu bergembira ketika mendapatkan karunia. Boleh jadi Tuhan justru menyayangimu lantaran engkau miskin, dan boleh jadi Tuhan juga sedang mengujimu ketika engkau diberi rejeki yang melimpah. Jadi rileks saja, karena itulah hakekat kebahagiaan yang sesungguhnya, jika kita percaya.

Tambahan:

Posting Komentar
home