Unduh Adobe Flash player

4.10.12

Kontradiksi Air

Setiap kemarau selalu muncul kekeringan dan krisis air, bahkan saat kemarau normal pun beberapa daerah mengalami kekeringan. Krisis air yang terjadi hingga kini masih dianggap belum sebagai masalah serius. Padahal krisis air sesungguhnya menyimpang potensi konflik luar biasa dimasa depan. Berdasarkan sumber dari Peneliti Bidang Hidrologi dan Koservasi Tanah BNPB.

Tindakan pengendalian untuk mengatasi masalah krisis air juga masih dilakukan dengan pendekatan simptomatik dengan gaya instan. Ketika terjadi kekeringan di atasi dengan distribusi air bersih melalui  tangki air, penyediaan pompa, pengeboran air, dan perbaikan jaringan irigasi. Gaya pendekatan yang demikian sesungguhnya tidak menyentuh akar permasalahan secara menyeluruh. Sebaliknya, masalah yang dihadapi akan muncul secara berulang-ulang dan dalam intensitas yang semakin meningkat.

Krisis air tersebut menyebabkan penyediaan kebutuhan air bersih bagi masyarakat terganggu. Tidak jarang masyarakat harus berjalan berkilo-kilo untuk memperoleh air. Bahkan kondisi air yang kualitasnya kurang memenuhi standar. Lenton dan Wriht dalam "Achieving the Millennium Development Goals for Water and Sanitation: What Will It Take?", mengidentifikasi beberapa kendala terkait keberhasilan penyediaan air minum di dunia ketiga, seperti Indonesia, yaitu : pertama, politis, kedua: finansial, ketiga: institusional, keempat: teknis, kelima: terbatasnya pasokan air dan bencana alam.

Selain itu kurangnya partisipasi masyarakat dan kurangnya penerimaan masyarakat terhadap teknologi baru. Pengaruh perubahan iklim global dan penggunaan lahan telah menimbulkan trend debit sungai menurun. Selama 30 tahun terakhir, debit sungai-sungai dan kecenderungan mengecil secara signifikan. Sungai lain juga menunjukkan perubahan watak hidrologi yang semakin mengkhawatirkan. Bahkan ketika musim kemarau debit aliran dasar (base flow) sangat rendah. Akibatnya timbul intrusi air laut, krisis air, dan konflik dengan pengguna lain seperti untuk pertanian dan sebagainya. Selain itu, pencemaran sungai juga semakin tidak terkendali. 

Tidak aneh jika para pakar Jerman dari Universitas Karlsruhe mengatakan, "Bagi pulau Jawa yang memiliki banyak daerah gunung api dan pegunungan dengan curah hujan yang tinggi, seharusnya tidak perlu mengalami kesulitan air.Air yang begitu jernih keluar dari mata air dengan melimpah, kemudian mengalir ke sungai dan dicemari oleh limbah pertanian, domestik, industri, sampah hingga berwarna cokelat dan berbau. Lalu diambil untuk air baku, diolah, didistribusikan dan dikonsumsi oleh masyarakat. Mengapa tidak diambil dimata air saja dengan disadap lalu didistribusikan ke bawah?". Jika orang Jerman saja berpikiran seperti itu mengapa kita tidak!. Dari berbagai sumber.

Posting Komentar
home