Unduh Adobe Flash player

16.6.12

Antara Profesi dan Pengabdian

Perkembangan zaman yang mengarah kepada gaya hidup hedonisme dan konsumerisme saat ini semakin lama semakin sulit untuk menemukan pribadi yang bersedia mengamalkan baktinya untuk menjadi panutan di masyarakat. Semangat pengabdian yang didasari semangat kemanusiaan merupakan pondasi yang kuat bagi pendidikan dimasyarakat. Tapi hal ini menjadi sedikit memudar karena pribadi-pribadi yang bersedia mengamalkan profesinya tersebut ternyata dibarengi dengan adanya tuntutan materi. Wajar memang, karena dengan materi dapat menopang kebutuhan hidup seseorang untuk memperoleh kelayakan hidup. 

Keadaan telah berubah pasca runtuhnya rezim lama yang berkuasa mulai terlihat gejala peningkatan minat masyarakat untuk mencoba peluang dunia kerja menjadi tenaga berprofesi semangat untuk pengabdian ke masyarakat.

Hal tersebut berbeda keadaannya ketika pada kurun waktu 10-20 tahun sebelumnya, dimana citra seorang pengabdi kemanusiaan di masyarakat masih memiliki kesan sebagai suatu profesi yang luhur meskipun tetap marginal. Sifat luhur yang dilakukan sekarang ini merupakan dedikasi yang pada akhirnya berujung kepada materi yang diterima meskipun sangat tidak sesuai dengan kebutuhan hidupnya. Keadaan itu berada pada popularitas sebagai profesi yang berada dibawah profesi lain yang mentereng, misalnya profesi antara seorang guru dengan seorang dokter.

Maka tak heran jika ada seorang guru yang bekerja separuh harinya dengan beraktivitas di tempat lain demi mencukupi kebutuhan hidupnya. Gambaran dari lagu Iwan Fals yang menceritakan suatu profesi yang telah lama dilakukan namun akhirnya berakibat pada kecemburuan sosial pelaku profesi tersebut.

Sering dijumpai di lapangan, profesi tersebut semata-mata hanya sebagai rutinitas administratif kerja semata. Misalnya jika dalam memberikan materi pembelajaran, pelaku profesi tersebut hanya memberikan konsep seadanya saja tanpa ada kelayakan seperti pada silabus, RPP dan acuan lainnya. Dan yang lebih memprihatinkan lagi jika pelaku profesi ini melalaikan tugasnya lantaran harus memilih pekerjaan lainnya untuk memenuhi kebutuhan hidupnya sehari-hari.

Gambaran seperti itu dimasa kini hampir dapat dikatakan tidak ada lagi, namun profesi seorang pengabdi masyarakat sudah hampir lepas dari kesan yang marginal. Kondisi yang terjadi di berbagai wilayah juga belum mencukupi rasio kuota yang ideal, maka meningkatnya minat pada profesi ini merupakan fenomena yang baik. Hal ini dapat dilihat dari meningkatnya pendaftar setiap tahunnya.

Akan lebih bijaksana jika profesi ini tidak dijadikan sebagai profesi untuk menumpuk materi saja, perlu dibedakan antara profesi kerja dan profesionalisme kerja sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat. Kontekstualisasi dalam perbedaan itu memang sangat disadari bukan suatu pekerjaan yang mudah, dan diperlukan upaya untuk menghindari terjebaknya psikis profesionalisme pada capaian hasil materi semata.

Memahami pentingnya peran serta seorang pengabdi masyarakat sebagai pilar pembangunan moral generasi muda memang memerlukan perjuangan yang tidak mudah, untuk itu dibutuhkan pribadi yang unggul dan idealisme, dalam artian kemurnian pengabdian adalah tujuan utama yang harus dikedepankan.

Pemerintah sebagai penyelenggara pendidikan perlu memperhatikan proses perekrutan pada bidang profesi ini dengan menekankan aspek moralitas pada kompetensi karakter kepribadian yang luhur untuk pengabdian kepada masyarakat. Bukan hanya menerima gelar yang kuantitas nilai formalitasnya tinggi tanpa adanya kualitas moral yang luhur untuk mengabdi.


Posting Komentar
home