Unduh Adobe Flash player

1.2.13

Meraih Kebebasan Finansial

Siapapun pasti ingin meraih kebebasan secara finansial. Berdasarkan buku yang penulis baca yaitu ajaran klasik "The Richest Man in Babylon" karya Goerge S. Clason menjelaskan bahwa ada kalimat yang menarik untuk dipahami adalah : "sebagian dari seluruh pendapatanmu harus disisihkan untuk diri sendiri". Dengan arti kata yang dapat penulis pahami adalah menabung maupun berinvestasi, dan menurut penulis sendiri hal tersebut adalah suatu keharusan dan sebagai tujuan mutlak ke masa depan yang harus diperhatikan dan harus diperjuangkan.

Lalu berdasarkan ajaran yang lebih klasik lagi yaitu, "sebagian kecil hartamu ada hak orang lain yang harus disampaikan". Memang tidak ada hubungannya dengan ajaran yang telah dibukukan oleh para pakar seperti penulis buku tersebut maupun pakar-pakar lainnya. Apa kaitannya dengan meraih kebebasan secara finansial dengan memberikan sebagian kecil harta kita kepada orang lain, sedangkan secara matematika hal  itu tentu akan menyusutkan nilai aset yang telah lama dikumpulkan. Apakah kontribusinya untuk aset kita jika harus memberikan sesuatu milik kita kepada orang lain?

Masih berdasarkan judul di atas, artinya agar bebas secara finansial, kita dianjurkan menyisihkan kurang lebih 10% dari total penghasilan selama bekerja. Cara  inilah yang dimaksudkan cara klasik menurut buku tersebut sehingga muncullah falsafah menabung "sedikit demi sedikit lama-lama menjadi bukit (banyak)". Cara ini kerap diajarkan setiap orang tua kepada anak-anaknya yang masih kecil untuk belajar menabung agar berefek positif kepada penghematan kebutuhan yang bersifat materi (uang).

Dan kaitannya pada paragrap kedua dengan maksud kebebasan finansial yang diajarkan menurut cara klasik tersebut adalah pembentukan karakter agar pandai memenejemen keuangan serta pendidikan kepribadian bersifat sosial terhadap orang lain. Kemudian yang menjadi pertanyaan adalah, apakah ke dua hal yang bersifat pendidikan tersebut telah diajarkan oleh orang tua kita sejak kita masih kecil?

Lalu apakah adanya sifat pelit yang dimiliki oleh seseorang karena tidak diajarkannya kedua pendidikan tersebut sejak kecil? Sepertinya sedikit atau bahkan tidak ada orang tua yang mengajarkan anaknya untuk bersikap pelit terhadap orang lain. Hanya saja mengapa hal tersebut bisa terjadi dan banyak sekali orang-orang disekitar kita mengalami hal tersebut. Masih banyak pertanyaan yang belum terjawab.

Umumnya hanya satu sisi dari segi pendidikan yang diajarkan oleh para orang tua kepada anaknya yaitu, diajarkan untuk berbagi kepada teman sepermainanya ketika si anak memiliki sesuatu seperti makanan. Itupun terbatas kepada teman-teman dekatnya atau saudara-saudaranya sekandung. Pendidikan inilah yang kerap kali kita dapati sejak masih kecil hingga diharapkan kelak dewasa nanti akan membuat si anak memiliki jiwa sosial yang tinggi terhadap orang lain. Namun orang tua kita tidak hanya sekedar mengajarkan anaknya sifat-sifat kesosialan saja, tetapi juga pendidikan akhlak, mengajarkan untuk saling menghargai orang lain dan sebagainya. Yang pada intinya mendidikan anak untuk dapat menjadi manusia yang memiliki jiwa yang manusiawi.

Meraih kebebasan secara finansial merupakan inti masalah manusia ketika manusia tersebut sudah memiliki rasa kebutuhan maupun keinginan akan sesuatu kepuasan yang bersifat materi dan immateri. Dan dalam hal pemenuhan kebutuhan tersebut berbeda-beda cara pun dilakukan manusia untuk meraihnya, dan seolah-olah manusia itu sadar dengan sendirinya bahwa untuk memenuhi kebutuhan hidupnya harus melalui dan melakukan sesuatu kerja yang optimal. Konsep pendidikan yang diajarkan oleh orang tua kita sebenarnya merupakan dasar-dasar yang secara alamiah tertanam di jiwa kita ketika menginjak usia dewasa. Hanya saja kita sering kali terlupa akan konsep-konsep yang diajarkan tersebut walaupun hanya sekedar mengingatnya saja. Sepertinya jika harus dibilang jurus, alangkah baiknya jika jurus tersebut kita namanaya back to basic, "from zero to hero".

Yang menjadi kesimpulan secara sederhana adalah "kerja keras akan membuahkan hasil", "bangkit dari kegagalan baiknya menjadi motivasi", apatisme dilawan dengan optimisme", dan mensyukuri apapun yang telah terjadi, baik itu bagus maupun tidak. Namun semangat untuk meraih kebebasan yang dituju tidak lepas dari visi dan misi sepanjang kebebasan secara finansial tersebut belum tercapai ditangan.

Setiap keberhasilan atas suatu perjuangan ada syarat-syarat yang harus dilalui, dan setiap keberhasilan sebuah penghasilan ada pula syarat-syarat yang harus dipenuhi. Rasa ingin berbagai sebenarnya menjadi naluri alamiah sejak manusia lahir, namun desakan secara materiil yang menggelapkan pandangan kita akan nikmatnya berbagi kepada orang lain. Kita dapat lalui hal itu dengan rasa cinta dan rasa sayang terhadap manusia, bukan berpikir individualisme saja. Anjuran untuk berbagi atas apa yang telah kita dapatkan adalah refleksi wujud kebersamaan untuk berbagi kepada yang kurang mampu, yang artinya secara tidak langsung rasa syukur itu selalu kita lakukan atas sesuatu kemurahan yang diperoleh.

Dan secara psikis akan mensucikan jiwa kita dari hal-hal yang berbau individualisme, dan secara hukum alam yang tidak terjemahkan justru akan semakin membuka lebar pintu rejeki kita ke arah masa depan. Satu syarat yang sangat sederhana sekali, menyisihkan walaupun 10% dan berbagai atas hasil walaupun 2.5% sepertinya syarat ini sudah cukup bagi kita untuk menikmati kebebasan secara finansial. Semoga bermanfaat.

Posting Komentar
home