Unduh Adobe Flash player

12.5.12

Ganja dan Kehidupan

Istilah ganja dalam pergaulan sehari-hari, maka akan muncul pemikiran tentang tanaman yang dikenal sebagai tumbuhan yang dipandang negatif oleh masyarakat umum. Yaitu tanaman yang mengarahkan hidup kepada kematian, namun menjadi primadona bagi pemburu atau pencandu demi kesenangan sesaat.

Bagi yang mengkonsumsi ganja, hal ini bisa dianggap sesuatu yang bisa menghadirkan rasa nyaman, senang, bahagia, mengalirkan inspirasi, mengusir kepenatan dan kebosanan bahkan dapat menghilangkan depresi yang berat (strees). Namun sebagian orang beranggapan bahwa ganja adalah obat ampuh yang dapat menghilangkan rasa sakit dan sebagai penghambat bagi penyakit yang mematikan.

Sebagian penduduk juga ada yang menggunakannya sebagai penyedap rasa yang telah dilakukan secara turun-temurun. Yang menjadi pertanyaan adalah, bagaimana pendapat tersebut? Dan siapakah yang benar?. Adakah fakta-fakta yang membuktikan dari pada sekedar uraian? Mengapa sedikit sekali informasi mengenai tumbuhan yang telah dideskripsikan masyarakat sebagai tanaman yang jahat dan dianggap terkutuk oleh agama?

Terbukanya kesadaran yang ditawarkan oleh tanaman ganja, maka kelebihan yang terkandung di dalamnya dapat menjadi sumber sandang, pangan, papan, obat-obatan, energi mudah dan massal. Hal ini menjadi daya tarik fisik dan psikologi bagi manusia. 

Evolusi bersama antara manusia dengan tanaman ganja sudah terjadi sejak zaman dulu. Catatan pertama kali tertulis lengkap tentang tanaman ganja berasal dari lempengan tanah liat yang ditulis dalam huruf paku (coneiform) oleh bangsa Sumeria pada masa 3000 tahun SM. Pada masa itu dalam bahasa Sumeria menyebutnya a-zal-la (tanaman yang memintal), sa-mi-ni-is-sa-ti, (tali tambang) dan ga-zi-gun-na (pencuri jiwa yang terpintal) yang kesemuanya meruku kepada satu tanaman yaitu tanaman ganja.

Tanaman ganja pada peradaban Romawi merupakan tanaman strategis dengan berbagai kegunaan. Ganja digunakan sebagai analgesik (penghilang rasa sakit), dalam situasi peperangan, bahan tali temali, bahan tekstil, minyak untuk penerangan dan bumbu memasak. Fungsi yang banyak ini kemudian melahirkan ganja dengan istilah cannapaceus atau canape yang bermakna segala sesuatu yang dibuat dari cannabis.

Dalam kesepakatan para ahli ilmu botani, bahwa memperkirakan persebaran ganja pertama kali di asia melalui laut Kaspia, Rusia Tengah, Rusia Selatan, sampai ke India Utara dan pegunungan Himalaya (Schultes, 1970). Dan dari semua daerah di Asia Tengah ini, daerah  Afghanistan Utara adalah tempat yang paling didisetujui oleh para ahli sebagai lokasi asal penyebaran tanaman ini (Scultes & Hoffman, 1980.

Perkembangan peradaban manusia bukanlah faktor yang mendorong meluasnya budaya cocok tanam ganja terjadi di berbagai daerah dari berbagai bangsa. Justru jika dilihat dari faktor kebutuhan, pangan, industri, energi, obat-obatan untuk berbagai penyakit, serta aktivitas peradaban lainnya menjadi faltor yang mengeratkan secara simbolis antara manusia dengan ganja.

Ganja yang memiliki sifat alamiah sebagai tanaman liar dan sejarah budi dayanya oleh manusia yang diperkirakan lebih dari dua belas ribu tahun, ternyata tidak mengubah sifat dasar dari tanaman ini. Tanaman ini hampir-hampir tidak memerlukan organisme lain untuk menyebarkan benihnya. Tidak membutuhkan tanah yang subur atau iklim yang stabil dan tanaman ini hampir tumbuh disegala tempat, ketinggian, cuaca dan di daerah yang panas. 

Jika ganja tumbuh  didaerah yang beriklim panas, tumbuhan ini akan lebih banyak menghasilkan zat resin atau getah dari daun dan bunganya yang mengandung zat psikoaktif untuk menangkap sebanyak mungkin air hujan maupun embun. Jika tumbuh di daerah yang dingin dan lembab, akan menghasilkan batang yang kuat, tetapi getah yang dihasilkan akan lebih sedikit.

Sementara itu getah tumbuhan ganja ini ternyata berfungsi ganda jika pada manusia. Fungsi pertama adalah bersifat memabukkan, menekan agresi, dan memberikan efek euforia. Sementara fungsi kedua adalah membunuh mikro organisme dan bakteri virus, organisme parasit seperti cacing. Situasi yang berbeda terjadi pada ganja yang ditanam pada daerah dingin. Tumbuhan ini akan lebih banyak menghasilkan serat batang yang diperlukan bagi kebutuhan sandang manusia.

Informasi penyebaran ganja yang diterima oleh masyarakat public adalah proses yang memang sudah lama terjadi, yaitu menerima informasi yang sifatnya mati dan tidak bisa berkembang lagi. Sejarah membuktikan adanya kecenderungan manusia untuk menerima dan menelan informasi tersebut secara bulat-bulat. Kebanyakan orang cenderung memukul rata dan secara naluriah. Hal tersebut apakah dipandang secara keseluruhan atau hanya sebagian kecil saja sisi buruknya. Kita sendiri yang mampu memahaminya.

Posting Komentar
home